Copyright 2022 - Custom text here

 http://agribisnis.co.id/wp-content/uploads/2017/03/KEBUN-SAWIT.jpg

BENGKULU-GAMAL INSTITUTE. Banyak perusahaan yang menilai kewajiban membangun plasma adalah beban usaha. Namun faktanya tidak demikian.

Menurut Bupati Bengkulu Utara, Ir Mian, pengembangan plasma adalah sebagai upaya untuk membangikan kue ekonomi dari usaha perusahaan agar dapat dinikmati masyarakat.  Bagaimanapun penguasaan lahan hingga ribuan ha berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial dan mematik konflik.

“Dengan membangun plasma perusahaan membangun tembok pelindung yang bersumber  dari masyarakat itu sendiri. Mereka turut melindungi eksistensi perusahaan ketika masyarakat menggantungkan hidupnya pada aktivitas perusahaan”, jelas Mian.

Pembangunan plasma pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi kepada perusahaan dari sisi penyediaan bahan baku. Hanya saja biaya pembelian TBS dari inti jauh lebih murah daripada plasma.

Tapi kembali lagi ini soal pengembangan bisnis berorientasi jangkap panjang.Di Bengkulu Utara terdapat sejumlah perusahaan kelapa sawit yang membangun plasma lebih besar dari 20 persen bahkan mencapai 40 persen. Seperti PT Agricinal, PT Sandabi  Indah Lestari yang membangun plasma melampaui batas minimal kewajiban membangun plasma. Tapi hingga saat ini masih eksis.

Jadi Bupati Bengkulu Utara tersebut kembali menakankan bahwa pengembangan plasma tidak semata-mata kewajiban melainkan inti dari pengembangan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.