Copyright 2021 - Custom text here

http://jualansapi.com/wp-content/uploads/2015/01/Cara-ternak-sapi.jpg

BENGKULU-GAMAL INSTITUTE. Salah satu tantangan yang sering dihadapi pekebun adalah harga yang berfluktuatif. Sehingga adakalanya pekebun tidak bisa mengandalkan pemasukan dari satu komoditas.

Menurut Ir Mian, pelaku perkebunan, memelihara sapi di  perkebunan sawit bisa memberikan pendapatan tambahan bagi petani. Selain itu terdapat manfaat lainnya dari kehadiran ternak itu bagi petani.

Salah satunya adalah membantu petani dapat mengangkut hasil panen. Metoda ini sudah lazim diterapkan di perkebunan rakyat di Bengkulu Utara. Dimana TBS yang bobotnya bisa mencapai 20 kg dapat diangkat dengan mudah menggunakan kereta yang ditarik dengan sapi.

Sementara kotoran sapi dapat dikembalikan ke kebun sebagai pupuk organik setelah sebelum dikomposkan.  Untuk pakan sapi dapat dilepas di kebun sawit dan menyantap gulma yang tumbuh, meskipun adakalanya pekebun masih harus memberikan makanan tambahan.

Menurut Mian sapi yang digunakan sebaiknya sapi Bali yang beradaptasi dengan baik di perkebunan kelapa sawit. Agar populasi dapat bertambah setiap tahunnya maka baiknya sapi yang dipelihara adalah sapi betina. Sementara yang sapi jantan bisa dijual sekiranya petani butuh uang cepat.

“Banyak petani di Bengkulu yang mengjual sapinya saat butuh uang untuk sekolah anak,  membiayai pesta atau akan naik haji”, jelas Mian.

Untuk populasi dalam jumlah besar sapi tersebut dapat dikelola untuk sebuah membangun desa mandiri energi. Kotoran tersebut dapat diproses untuk menghasilkan biogas yang akan disalurkan ke rumah masyarakat. Lalu sisa kotoran dapat diolah menjadi kompos dan dikembalikan ke kebun. Sementara limbah perkebunan sawit kembalikan ke peternakan sapi. Namun idealnya sistem mandiri energi dikelola oleh koperasi petani.

Demikianlah tips pengembangan integrasi sapi sawit menurut Ir. Mian yang merupakan pelaku perkebunan yang juga dipercaya sebagai Bupati Bengkulu Utara.