Copyright 2019 - Custom text here

BENGKULU-GAMAL INSTITUTE. Ir Mian mengaku miris dengan berbagai serangan terhadap kelapa sawit nasional. Terakhir datang dari Parlemen Uni Eropa yang melarang pelarangan biodiesel berbasis sawit. Resolusi tersebut terlihat bijaksana namun pada akhirnya menjadi bentuk dehumanisasi atau penistaan terhadap kemanusiaan.

Menurut Bupati Bengkulu Utara tersebut kehadiran perkebunan kelapa sawit rakyat melalui pengembangan kemitraan dengan perusahaan inti menjadi salah satu faktor yang menekan tingkat kemiskinan di Bengkulu Utara. Tercatat luas perkebunan rakyat di Bengkulu Utara sebesar 36,861 ha. Dmana sekitar 24.406 ha merupakan tanaman menghasilkan. Dengan produksi 345 ribu ton kelapa sawit menciptakan peputaran uang sebesar Rp. 414 Milyar  setiap tahunnya. Ini belum termasuk dampak multiplayer effect dari terhadap pengembangan ekonomi wilayah. Hebatnya tumbuhnya perkebunan rakyat di Bengkulu Utara sebagian besar tanpa dibiaya oleh pemerintah.

Ketika Uni Eropa melakukan tekanan terhadap sawit maka yang terjadi negara maju tersebut mengambil “uang masyarakat” tersebut untuk mengsubsidi industri minyak nabati lainnya yang tidak melibatkan jutaan masyarakat. Jadi ini bentuk dehumanisasi dan tidak ada bedanya dengan sistem tanam paksa, dimana pemerintah kolonial menarik manfaat yang seharusnya diterima masyarakat.

Mian menegaskan bahwa tidak seluruh perkebunan kelapa sawit yang melakukan deforestasi, merusak lingkungan, dan memperkerjakan anak. Itu harus diingat. Sehingga tidak seharusnya kesalahan satu atau dua pihak menjadi beban keseluruhan pekebun. Apalagi saat ini pemerintah gencar menerapkan ISPO yang menjadi simbol pengembangan kelapa sawit berkelanjutan, maka tudingan tersebut menjadi tidak relevan. Kalaupun ingin melakukan punishment terhadap pelaku perkebunan baiknya adalalah langsung kepada yang bersangkuatan.

“Ketika sawit ditekan, saat sumber kehidupan masyarakat dimatikan hanya karena orientasi bisnis semata, maka bukan tidak mungkin masyarakat yang kehilangan mata pencariannya akan menebang sawitnya atau malah merambah hutan untuk mencari penghidupan. Ketika itu terjadi maka tidak hanya Uni Eropa yang rugi, namun juga dunia”, tegas Bupati Bengkulu Utara tersebut.