Copyright 2019 - Custom text here

http://paspimonitor.or.id/wp-content/uploads/2016/02/sawit1.jpg

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Komoditi kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tanaman penghasil utama minyak nabati yang mempunyai produktivitas lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Luas areal tanaman kelapa sawit terus berkembang dengan pesat di Indonesia. Hal ini menunjukkan meningkatnya permintaan akan produk olahannya.

Dalam perekonomian Indonesia, kelapa sawit (dalam hal ini minyaknya) mempunyai peran yang cukup strategis, karena : (1) Minyak sawit merupakan bahan baku utama minyak goreng, sehingga pasokan yang kontinyu ikut menjaga kestabilan harga dari minyak goreng tersebut. Ini penting sebab minyak goreng merupakan salah satu dari 9 bahan pokok kebutuhan masyarakat sehinga harganya harus terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. (2) Sebagai salah satu komoditas pertanian andalan ekspor non migas, komoditi ini mempunyai prospek yang baik sebagai sumber dalam perolehan devisa maupun pajak. (3) Dalam proses produksi maupun pengolahan juga mampu menciptakan kesempatan kerja dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Perkebunan kelapa sawit saat ini telah berkembang tidak hanya yang diusahakan  oleh perusahaan negara, tetapi juga perkebunan rakyat dan swasta. Dengan semakin meningkatnya pembangunan kebun kelapa sawit, benih yang beredar pun semakin banyak. Untuk memperoleh benih kelapa sawit yang baik diawali dengan adanya Kebun Induk yang sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan.

Sumber benih juga diharapkan lebih mendekatkan diri kepada konsumen dengan jalan menggalakkan program waralaba serta ikut bertanggung jawab bagi penyediaan bahan tanaman berkualitas untuk pekebun di wilayah yang berdekatan dengan kebun produksi benihnya. Produksi benih unggul melalui rangkaian proses yang saling behubungan. Produksi benih unggul dimulai dari pembangunan kebun benih sumber sampai dengan benih tersebut dihasilkan. Untuk menghasilkan benih unggul bermutu dan berkualitas sesuai standar yang berlaku maka perlu dilakukan penetapan dan evaluasi kebun Benih Sumber. Penetapan kebun Benih Sumber dilaksanakan oleh instansi yang berwenang.

Sesuai Permentan 50/Permentan/KB.020/9/2015 tentang Produksi, Sertifikasi, Peredaran Dan Pengawasan Benih Tanaman Perkebunan,  pasal 11, bahwa kebun induk tanaman tahunan dan pohon induk terpilih dinilai kelayakannya oleh Tim akan ditindaklanjuti dengan penetapan sebagai kebun sumber benih melalui Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan atas nama Menteri Pertania.

Dalam pelaksanaan penilaian penetapan kebun sumber benih kelapa sawit mengacu pada Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 321/Kpts/KB.020/10/2015 tanggal 30 Oktober 2015 tentang Pedoman Produksi, Sertifikasi,  Peredaran Dan Pengawasan Benih Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq), dengan permohonan ditujukan kepada Direktur Jenderal Perkebunan.

A.     Penetapan kebun induk dan pohon induk untuk memproduksi benih kelapa sawit dilakukan melalui tahapan :

a)    Penetapan Tim,

b)    Penilaian Kelayakan,

    Penilaian kelayakan kebun tersebut dilakukan melalui tahapan :

·      Pemeriksaan dokumen

·      Pemeriksaan teknis atau lapangan

·      Pembuatan laporan hasil pemeriksaan

c)     Penetapan kebun induk dan pohon induk

 B.     Tim dalam melakukan penilaian kebun induk dan pohon induk kelapa sawit dimaksud terdiri dari:

-                   Direktorat Jenderal Perkebunan yang menangani fungsi perbenihan;

-                   Pemulia Tanaman dari Pusat/Balai Penelitian komoditi terkait.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 11/Kpts/OT.050/2/2016 tanggal 29 Februari 2016 Tentang Tim Penilai Kebun Sumber Benih Tanaman Perkebunan, untuk komoditi kelapa sawit  yang ditunjuk dalam keanggotaan Tim adalah pemulia  tanaman kelapa sawit  berasal dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit,

-                   Pengawas Benih Tanaman (PBT) yang berkedudukan di Direktorat Jenderal Perkebunan,  PBT yang berkedudukan di Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) sesuai wilayah kerja, dan/atau PBT yang bekedudukan di UPTD Provinsi yang menyelenggarakan tugas dan fungsi pengawasan dan sertifikasai benih..

Selain anggota tim sebagaimana dimaksud di atas, tim dapat ditambahkan unsur dari Pejabat Dinas Perkebunan Provinsi dimana kebun tersebut berkedudukan dalam hal ini adalah Dinas Perkebunan Provinsi Riau dan/atau pejabat Dinas Perkebunan Provinsi Kabupaten Rokan Hulu.

C.        Dokumen yang dipersyaratkan dalam penilaian penetapan kebun induk dan pohon induk kelapa sawit adalah :

a.      Surat Permohonan,

b.     Ijin prinsip pembangunan kebun induk kelapa sawit,

c.      Rekaman pembangunan kebun induk termasuk asal usul benih,

d.     SK pelepasan varietas,

e.      Nota perjanjian kerjasama pembangunan kebun induk kelapa sawit antara pemilik varietas dengan perusahaan yang akan membangun kebun induk kelapa sawit, (jika kebun dibangun berdsarkan kerjasama)

f.       Dokumen hak atas tanah,

g.      SDM yang dimiliki,

h.     Peta per tanaman,

i.       Rekaman pemeliharaan kebun,

Pemeriksaan teknis lapangan dilakukan terhadap kondisi kebun induk, pohon induk dura, pohon induk pisifera,  teknis pemuliaan, reproduksi, pemrosesan benih, dan layanan purna jual.

 

Penulis: Yusie Arisanti, SP. Msi, Pengawas Benih Tanaman Direktorat Perbenihan, Ditjenbun.