Copyright 2019 - Custom text here

Jika kita melihat kondisi perbenihan kita saat ini rasanya kita masih akan tergantung pada cara-cara konvensional. Namun perkembangan bioteknologi membuat kita harus mulai merubah paradigma kita bahwa kunci keberlanjutan perkebunan salah satunya adalah melalui penerapan teknologi perbenihan.

Menurut para pakar, reproduksi tanaman melalui persilangan merupakan metoda perbanyakan generasi pertama, sementara reproduksi tanaman melalui teknologi kultur jaringan sudah merupakan metoda generasi kedua. Puncaknya adalah menghasilkan benih unggul dengan rekayasa genetik yang merupakan teknologi generasi ketiga. Hanya saja pada tanaman perkebunan secara umum metoda yang lazim digunakan adalah teknologi generasi pertama

Apakah dimungkinkan menerapkan teknologi generasi kedua dan ketiga pada perkebunan?

Biotechnology Center

Mungkin saja, jawab kebanyakan orang, namun untuk skala laboratorium tapi tidak untuk produksi massal. Namun upaya PT Smart mengembangkan Smart Biotechnology Center di Sentul Jawa  Barat setidaknya membukakan mata kita tentang kemungkinan memanfaatkan bioteknologi untuk merakit dan memproduksi benih unggul dalam jumlah besar.

PT Smart melalui pusat penelitiannya tersebut tengah berbenah untuk menghasilkan benih kelapa sawit unggul melalui kuljar secara massal. Mungkin dalam beberapa tahun mendatang perusahaan tersebut sudah memasarkan benih sawit dalam bentuk planlet. Jadi dengan teknologi tersebut perusahaan kelapa sawit tersebut dapat menduplikasi tanaman dengan hasil terbaik secara klonal.

Namun hal yang menurut saya menarik Smart Biotechnology Center yang beroperasi di Sentul sejak tahun 2011, telah melakukan sebuah loncatan dalam upaya merakit tanam unggul. Pusat penelitian tersebut sukses mengidentifikasi gen-gen kelapa sawit  yang bertanggung jawab terhadap karakter-karakter unggul yang diharapkan. Di lembaga riset ini tanaman sawit seolah ditelanjangi sedemikan rupa, dimana para peneliti sudah berhasil memetakan gen yang menentukan produksi, kadar minyak, warna buah dsb. Termasuk gen-gen yang berkontribusi pada karakter unik.

Pengembangan Smart Biotechnology Center ini menginspirasi saya tentang begitu nyatanya perkembangan bioteknologi di Indonesia.  Teknologi tersebut  sudah di depan mata dan harus kita manfaatkan. Kedepan kita tidak lagi hanya mengandalkan cara konvensional untuk merakit varietas unggul. Kita wajib memanfaatkan bioteknologi untuk kepentingan tersebut.

Mimpi Saya

Tentu saya memiliki harapan bahwa penerapan biotech segera diterapkan pada komoditas perkebunan. Tidak hanya kelapa sawit namun juga komoditas perkebunan lainnya seperti kakao, lada, tebu dsb.  Saya membayangkan pusat penelitian kita mampu mengidentifikasi gen-gen yang memiliki tanggung jawab terhadap karakter tertentu seperti yield, ketahanan penyakitgenjah, tahan kekeringan dsb. Lalu materi genetik tersebut kemudian disebarluaskan pada tanaman yang akan ditanam secara luas, baik secara in vitro ataupun melalui persilangan biasa.

Jadi harapan saya Indonesia ke depan memiliki semacam bank gen yang menyimpang data-data hasil identifikasi gen yang terkait dengan sifat-sifat menguntungkan, seperti produksi tinggi dan tahan terhadap penyakit busuk pangkal batang tanaman lada, gen yang berkaitan dengan produksi tinggi dan flavour yang khas pada kakao atau gen yang berhubungan dengan produksi minyak atsiri pada tanaman  nilam.

Selain mampu melakukan marka molekuler, saya membayangkan kelak Indonesia mampu melakukan rekayasa genetik menghasilkan sifat-sifat unggul. Seperti halnya  penerapan teknologi GMO, gen editing, menciptakan mutant sehingga kita bisa memperbaiki karakter gen untuk menghasilkan sifat-sifat unggul.

Hanya saja tantangan pengembangan dan penerapan bioteknologi di Indonesia cukup besar. Tidak semua kalangan termasuk juga para pakar yang sepakat dengan teknologi rekayasa genetik. Sayangnya banyak pihak yang menentang penerapan bioteknologi tanpa memahami dengan mendalam tentang teknologi ini. Secara global penerapan bioteknologi sudah merupakan kelaziman. Seperti halnya penggunaan tanaman transgenik. Konon 89% dari luas kacang kedelai, 83% areal kapas, dan hampir 61% luas perkebunan jagung di Amerika Serikat menggunakan tanaman transgenik.

Dalam hal ini menurut saya Indonesia perlu memperbanyak kajian terkait penerapan bioteknologi untuk menilai dampaknya terhadap kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem. Sehingga kemudian dapat menyimpulkan bahwa teknologi rekayasa genetik patut ditolak atau diterima.

Sementara tantangan lainnya penerapan bioteknogi membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sejauh ini penerapan biotech pada perkebunan masih menjadi domain para laboran yang pengembangannya masih dalam skala laboratorium. Dengan kondisi pasar benih unggul yang belum menggairahkan dan sepenuhnya masih bergantung pada proyek pemerintah maka perusahaan swasta masih belum dapat diharapkan untuk mengembangkan riset dan penerapan bioteknologi. Itu sebabnya menurut saya peran ini masih harus diambil oleh pemerintah melalui pusat-pusat penelitiannya.

Tapi sekali lagi , ini adalah momentum bagi pemerintah Indonesia untuk serius mengembangkan bioteknologi menuju penerapan reproduksi tanaman generasi ketiga. Harus dimulai saat ini  jika tidak kita akan tertinggal. Jangan sampai kita merasa awam terhadap  teknologi yang sudah menjadi kelaziman (@Gamal Nasir).   .