Copyright 2019 - Custom text here

http://3.bp.blogspot.com/_9rIOUL9jULc/S5bwHxBDOMI/AAAAAAAAA5g/F8erIUPLq3U/s400/sehat.jpg

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Beberapa waktu yang lalu Menteri Pertanian mengecam aksi penyebaran benih palsu saat berkunjung di Sumatera Barat. Konon ratusan ribu ha di provinsi tersebut disinyalir menggunakan benih palsu.

Hanya saja bagaimana sebenarnya dampak sesungguhnya dari penggunaan benih ilegitime tersebut.

Sehubungan dengan hal tersebut Gamal Institute mencoba melakukan inventarisasi masalah dan menemukan beberapa fakta-fakta menarik terkait dampak penggunaan benih palsu.

Berbuah Lambat

Pohon kelapa sawit yang berasal dari kecambah yang tidak murni berbuah agak lambat (+ 48 bulan), sedangkan kelapa sawit unggul umumnya 36 bulan sudah berbuah. Bahkan di beberapa daerah, perkebunan sawit yang menggunakan benih asalan belum juga berbuah meskipun sudah ditanam lebih dari 6 tahun. Hanya yang lebih cilaka jika ternyata benih yang digunakan merupakan psifera maka buahnya akan sangat sedikit bahkan tidak berbuah, karena di kebun persilangan psifera umumnya untuk menghasilkan bunga jantan.

Produksi Rendah

Produksi TBS lebih rendah dari produksi normal, sebagai akibat terdapatnya pohon Dura 25 % dan Psifera 25%. Produktivitas TBS (Ton/Ha) kelapa sawit tidak murni di bawah normal (< 20 Ton TBS) dan cenderung terus menurun. Sedangkan pada benih unggul produksi puncak di atas 20 Ton TBS dan produksi tersebut dapat stabil selama +10 tahun.

 

Berat tandan kelapa sawit unggul 8 – 20 tahun antara 15-22,5 Kg dengan jumlah tandan 10-15 tandan/pohon/tahun.

Proses Pengolahan Tidak Efisien

Proses pengolahan TBS dari benih sawit tidak murni menjadi tidak efisien akibat dari tinginya presentase buah dalam cangkang tebal (Dura), sedangkan pabrik pengolahan didesign untuk kulit cangkang tipis (Tenera). Ketidakefisienan ini disebabkan oleh karena beragamnya jenis buah dengan ketebalan mesocarp yang berbeda.

Ketebalan cangkang yang berbeda mengakibatkan pemanasan biji tidak merata dan hasil proses bantingan (cracker) tidak sempurna, dan pemasanan kernel dengan cangkang juga tidak sempurna. Rendemen CPO rendah di bawah 20% karena tercampurnya dengan buah Dura yang rendemennya rendah, yaitu 18 – 19,5 %

Kerugian Finansial dan Ekonomi

Tentu karena tingkat produktivitas rendah maka jumlah penerimaan penanaman kelapa sawit akan rendah ditambah lagi dengan tidak efisiennya pengolahan di pabrik, maka harga TBS akan di bawah normal.

Hal ini juga mengakibatkan kerugian waktu akibat dari terdeteksinya tanaman yang berasal dari kelapa sawit tidak murni setelah memasuki masa berbuah, maka penanaman kelapa sawit akan kehilangan waktu untuk mengatinya dengan tanaman unggul. Dan kesemua ini akan berakhir pada kerugiaan investasi.