Copyright 2019 - Custom text here

http://www.agrisoft-systems.com/wp-content/uploads/Images/ProductPage_TC/TC_Lab_Plantlets_cropped-300x206.jpg

JAKARTA-GAMAL INSITUTE. Komoditi kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan tanaman penghasil utama minyak nabati yang mempunyai produktivitas lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Luas areal tanaman kelapa sawit terus berkembang dengan pesat di Indonesia. Hal ini menunjukkan meningkatnya permintaan akan produk olahannya. Benih kelapa sawit umumnya dihasilkan dari varietas hibrida DxP dimana pohon dura berperan sebagai tetua betina dan pohon pisifera berperan sebagai tetua jantan. Namun dewasa ini banyak dikembangkan perbanyakan tanaman kelapa sawit dengan teknik kultur jaringan.

Apa itu kultur jaringan? Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ, serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik. Sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. 

Keunggulan Perbanyakan Kuljar

Tujuan pokok penerapan perbanyakan dengan teknik kultur jaringan adalah produksi tanaman dalam jumlah besar pada waktu singkat, terutama untuk varietas-varietas unggul yang baru dihasilkan. Ada beberapa kelebihan dari penerapan perbanyakan dengan teknik kultur jaringan diantaranya adalah dapat memperbanyak tanaman tertentu yang sangat sulit dan lambat diperbanyak secara konvensional, dalam waktu singkat dapat menghasilkan jumlah benih yang lebih besar, perbanyakannya tidak membutuhkan tempat yang luas, dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa mengenal musim, bibit yang dihasilkan lebih sehat dan dapat memanipulasi genetik dan biaya pengangkutan bibit lebih murah. Penerapan teknik kultur jaringan bukannya tanpa kelemahan. Beberapa kelemahan dari penerapan perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan antara lain dibutuhkannya biaya yang relatif lebih besar untuk pengadaan laboratorium, dibutuhkan keahlian khusus untuk mengerjakannya dan tanaman yang dihasilkan berukuran kecil dengan kondisi aseptik, terbiasa dilingkungan hidup dengan kelembaban tinggi dan relatif stabil sehingga perlu perlakuaan khusus setelah aklimatisasi dan perlu penyesuaian lagi untuk kelingkungan eksternal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sel pada metode kultur jaringan adalah sumber eksplan, media, hormon, zat pengatur tumbuh (ZPT), dan lingkungan fisik kultur jaringanTeknik kultur jaringan akan berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan eksplan sebagai bahan dasar untuk pembentukkan kalus, penggunaan medium yang cocok, keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang baik terutama untuk kultur cair. Meskipun pada prinsipnya semua jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi sebaiknya dipilih bagian tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem, seperti: daun muda, ujung akar, ujung batang, keping biji dan sebagainya. Bila menggunakan embrio bagian bji-biji yang lain sebagai eksplan, yang perlu diperhatikan adalah kemasakan embrio, waktu imbibisi, temperatur dan dormansi.

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sebagai lembaga riset dibawah PT Riset Perkebunan Nusantara yang melakukan penelitian dan pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia memulai penelitian perbanyakan tanaman kelapa sawit melalui teknik kultur jaringan sejak pertengahan tahun 1985 di Balai Penelitian Marihat Pematang Siantar atas kerjasama dengan CIRAP-CP Perancis. Tanaman klon yang pertama ditanam adalah di kebun Bah Jambi PTP Nusantara IV pada tahun 1987, kebun Cot Girek PTP Nusantara I pada tahun 1988 dan kebun Sawit Seberang PTP Nusantara II pada tahun 1989.

Dari uji lapang yang dilakukan di kebun Cot Girek dan Sawit Seberang menunjukkan bahwa produksi tandan buah segar (TBS) tanaman klonal dengan teknik kultur jaringan secara umum cukup tinggi sepanjang tanaman menunjukkan pertumbuhan yang normal. Produksi TBS pada tahun pertama menghasilkan (TM 1) telah mencapai 17 ton/ha/th dan produksi TBS tertinggi yang pernah dicapai adalah 43 ton/ha/th pada 1995. Hal serupa juga diperoleh dari uji lapang di kebun Sawit Seberang dimana klon ditanam pada 1989, produksi TBS mencapai 39 – 41 ton/ha/th. Bila dibandingkan dengan tanaman asal benih (seedling) dimana rata-rata produksi TBS 25 ton/ha/th, maka produksi TBS dari tanaman klon lebih tinggi 20 – 30%.

 

Hasil observasi dari uji lapangan yang dilakukan di Afdeling III Block BJ 26-S, kebun Bah Jambi PTP Nusantara IV menggunakan 14 klon dan 2 jenis persilangan DxP sebagai pembanding menunjukkan bahwa 3 dari 14 klon menunjukkan pembungaan abnormal yang agak tinggi yaitu MK-15 (15%), MK-33 (26%) dan MK-59 (23%). Pengujian ini menggunakan 4 ulangan dan  setiap ulangan terdiri dari 100 tanaman. Total tanaman yang diamati sebanyak 1.600 tanaman. Pada kebanyakan tanaman yang abnormal, produksi TBS lebih rendah. Makin tinggi persentase abnormalitas maka semakin rendah produksi TBS. Ini disebabkan rendahnya pembentukan buah (fruitset), rendahnya berat tandan serta kegagalan buah.

Keunggulan teknik kultur jaringan adalah mampu menghasilkan bibit secara massal dalam waktu yang relatif singkat, seragam, sifatnya identik dengan induknya, masa non produktif lebih singkat dan produktivitasnya lebih tinggi. Namun, timbulnya masalah abnormalitas pada organ reproduktif yang diketahui setelah tanaman berbunga dan berbuah (2-3 tahun setelah tanam), merupakan kendala yang harus diatasi.

Mengenai Abnormalitas Kuljar

Timbulnya abnormalitas tersebut diduga disebabkan penggunaan 2,4-D yang tinggi untuk menginduksi pembentukan kalus, dan dilakukannya sub kultur berulang kali untuk mendapatkan embrio somatic dalam jumlah banyak. Abnormalitas pembuahan pada tanaman kelapa sawit asal kultur jaringan dikenal dengan istilah mantled, yaitu mesokarp tidak berkembang. Dapat juga terjadi bunga jantan steril. Abnormalitas terjadi pada rata-rata 5-10 % dari populasi bibit asal kultur jaringan dan bersifat epigenetik.

Marmey et al. (1991) menyatakan bahwa kalus remah yang disebut sebagai kalus sekunder menyebabkan terjadinya kalus embrioid yang abnormal. Menurut Jones (1991) abnormalitas yang terjadi pada klon kelapa sawit hasil kultur jaringan disebabkan terhambatnya ekspresi gen yang mengatur pembungaan, sebagai akibat penambahan zat pengatur tumbuh tertentu ke dalam media.

Terdapat berbagai cara untuk mengetahui keabnormalitasan pada tanaman kelapa sawit, diantaranya ialah :

1.    Menggunakan teknik atau metode pengamatan langsung pada tiap fase dan tahap perkembangan yang dimulai dari bunga atau membandingkan tumbuhan normal dengan abnormal secara visual,

2.     Analisis abnormalitas tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) hasil kultur jaringan dengan teknik Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) dimana dengan teknik ini DNA diekstraksi dari daun muda sebanyak 0,3 g dari tiap klon percobaan, berdasarkan jurnal terdapat klon enam MK normal dan abnormal.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesamaan genetik serta pengelompokan antar genotipe normal dan abnormal dalam klon yang sama maupun antar klon, serta menetapkan pita DNA penciri untuk abnormalitas dengan RAPD. Mencegah penguapan pada saat reaksi berlangsung maka contoh dilapisi dengan 25mL mineral oil,

3.    Metode Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP) yaitu suatu metode untuk menganalisis normal dan abnormal pada klon kelapa sawit. AFLP merupakan kombinasi dari metode RAPD dengan RFLP yang dapat digunakan untuk menganalisis keragaman genetik melalui penggandaan fragmen DNA yang dihasilkan dari pemotongan enzim restriksi dengan menggunakan primer spesifik. Berbeda halnya dengan metode RAPD yang mengekstraksi daun muda dari kelapa sawit, pada metode AFLP DNA diisolasi dari buah muda dan juga daun muda klon MK 152, MK 209, dan MK 212 yang masing masing terdiri atas genotip normal, berbuah abnormal, dan berbunga jantan steril. Percobaan mencakup (i) seleksi primer AFLP yang mampu menghasilkan pita yang polimorfis, (ii) analisis kemiripan genetik, UPGMA, komponen utama dan pita pembeda antar genotip normal dan abnormal.

Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya abnormalitas hasil dari kultur jaringan. Hal yang sangat ekstrim dari abnormalitas ini adalah tidak terbentuknya buah karena tandan buah dipenuhi oleh bunga jantan atau buah bermantel berat yang menyebabkan hilangnya produksi. Tidak adanya kualitas kontrol yang efektif untuk abnormalitas pada produksi, dan belum lengkapnya pemahaman mengenai penyebab abnormalitas di dalam perkembangan kultur in vitro berakibat pada tertundanya upaya untuk memproduksi bibit unggul kelapa sawit secara klonal.

Dari jurnal dan penelitian yang telah dilakukan, beberapa usaha dalam mengatasi abnormalitas tanaman kelapa sawit antara lain dengan kultur tunas apikal. Kultur tunas apikal adalah teknik mikropropagasi yang dilakukan dengan cara mengkulturkan eksplan yang mengandung meristem pucuk (apikal dan lateral) dengan tujuan merangsang dan perbanyakan kalus. Kelebihan kultur meristem adalah mampu menghasilkan bibit tanaman yang identik dengan induknya dan bebas virus. Selain itu, dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia, Kultur jaringan kelapa sawit melalui embriogenesis somatik dilakukan menggunakan sistem perendaman sesaat (SPS) yang berdasar pada perendaman singkat propagul dalam medium cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SPS meningkatkan produksi dan keseragaman embrio somatik kelapa sawit. Di samping itu, paparan yang singkat propagul ke medium diperkirakan akan menurunkan terjadinya abnormalitas tanaman di lapang. Uji lapang menunjukkan bahwa tingkat abnormalitas pembungaan dan pembuahan tanaman kelapa sawit sangat rendah, kurang dari 1%.

                                                                                                                                                     

Penulis Dina Fithriyyah, SP