Copyright 2020 - Custom text here

BOGOR-GAMAL INSTITUTE. Ternyata tanaman ini merupakan komoditas perkebunan yang dapat dijadikan pakan ternak. Pengembangan tanaman ini setidaknya bisa mengurangi ketergantungan Indonesia akan impor bungkil kedelai.

Tanamam yang dimaksud adalah Indigofera zollingeriana. Di masyarakat biasa disebut nila yang biasa digunakan sebagai perwarna. Hanya tidak semua spesies nila yang bisa diolah menjadi pakan. Menurut Prof. Luki Abdullah, pakar peternakan dari Institute Pertanian Bogor (IPB), dari hasil penelitian dari 700 indigofera ditemukan jika Indigofera zollingeriana salah satu yang layak menjadi sumber pakar ternak.

Indigofera zollingeriana dapat diolah menjadi konsentrat hijau yang selama ini menggunakan bahak baku biji-bijian yang harganya semakin hari semakin mahal. IPB telah melakukan penelitian sejak 2008 dengan sejumlah hasil kajian yang menarik.  

Tanaman indigoferas tersebut memiliki bio massa tinggi.  Toleran terhadap ketinggian dan mampu menaha erosi dan memperbaiki kesuburan tahan.  Sehingga layak dijadikan tanaman konservasi.

Terkait sebagai pakan, konsentrat indigofera terbukti aman dan disukai ternak. Selain itu konsumsi konsetrat hijuan tersebut memiliki dampak terhadap mutu produksi ternak.

Konon sapi yang mengkonsumsi indigofera  memiliki warna daging lebih merah cerah. Selain itu kandungan dan kolesterol lebih rendah.  Kotoran sapi relatif tidak bau dengan penurunan emisi methan hingga 26 %.

Sementara untuk hasil berupa telur, konsumsi indigofera jenis ini dapat mengurangi kandungan kolesterol dan membuat kuning telur tidak mudah pecah ketika dibuka.Terkait dengan reproduksi, konsumsi indigofera meningkatkan birahi serta menurunkan abnormalitas sperma. Namun yang menarik adalah penggunaan indigofera dapat menekan biaya pakan hingga 20 - 30 %.

“Saat ini minat masyarakat menanam Indigofera zollingeriana cukup tinggi. Pasalnya harganya cukup baik karena per ha bisa diperoleh 18 ton. Dengan harga Rp 400 basa/kg dan  dan kering untuk kualitas sedang Rp. 4000/kg. Waktu tanam hingga panen hanya membutuhkan 4 bulan dan bisa diambil bahan hijauannya setiap saat.”, jelas Luki.

Hanya IPB belum dapat mensertifikasi benih Indigofera zollingeriana dari kebun benih yang ada di Jonggol, Jawa Barat karena belum ada ketentuan yang mengatur perihal sertifikasi tanaman tersebut. Selain itu belum ada varietas atau populasi Indigofera zollingeriana yang sudah dilepas.

Indigofera zollingeriana merupakan komoditas binaan Direktorat Jenderal Perkebunan. Hanya selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomi sehingga regulasi terkait sertifikasi dan penetapan kebun sumber benihnya belum tersedia.

Dalam rangka mendukung pengembangan Indigofera zollingeriana Direktorat Jenderal Perkebunan melalu Direktorat Perbenihan tengah melakukan penyusunan pedoman produksi dan sertifikasi tanaman ini. Selain itu IPB juga tengah mempersiapkan upaya percepatan pelepasan varietas sehingga benih Indigofera zollingeriana, yang tersedia dalam bentuk biji dan bibit siap salur, dapat dipasarkan secara komersial.

Sementara tanaman ini juga dapat ditumpangsarikan dengan tanaman perkebunan sebagai tanaman sela atau pagar. Mengingat Indigofera zollingeriana merupakan jenis legume yang bisa menambat N. Selain itu tanaman ini juga bernilai ekonomi.