Copyright 2019 - Custom text here

http://4.bp.blogspot.com/-hO42XeMvk4w/VZXpnhgjBrI/AAAAAAAAS-0/EoABvSdAIQM/s1600/benih-tanaman-e1417513125520.jpg

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Pada tataran hulu benih sumber, benih perkebunan sangat cukup. Baik dari ragam jenis mulai tanaman utama karet, kelapa sawit, kopi, kakao, juga cengkeh, lada, panili, pala, aren, bahkan atsiri seperti sereh wangi dll sudah ada dan sudah ditetapkan.  

Teknologinya sudah sangat baik. Produsennya selain pemain papan atas sekelas Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Pusat Penelitian Karet, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), juga ada kelas UMKM khususnya komoditas seperti pinang, pala, vanili, lada dll.

Menariknya, produsen yang langsung berhadapan dengan petani  mayoritas adalah UMKM. Kabar baiknya produsen UMKM ini sudah di wadahi dalam Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia (PPBTPI)  sehingga memudahkan bagi pemerintah menerapkan kebijakan. Oleh karena itu tidak salah jika saya harus mengklaim jika perbenihan perkebunan cukup HEBAT.

Pada sisi regulasi hampir semua sudah tersentuh aturan. Mulai dari aturan di hulu yang mengatur plasma nuftah dan varietas, proses produksi, distribusi, standar standar mutu, bahkan sertifikasi sudah ada dan sudah lengkap.

Bahkan pada 5 tahun terakhir regulasi hampir aturan rajin terbit, namun uniknuya juga rajin diperbaiki karena pelaku benih tergagap gagap mengikutinya. Contoh saja komoditi utama karet, kakao, kelapa sawit, bahkan aren pun  juga harus mengalami perubahan aturan.

Cerita dari Hilir

Namun pada  hilir , benih yang diedarkan untuk pembangunan perkebunan kualitasnya sangat beragam. Hampir semua diproduksi penangkar (walaupun sudah disebut Produsen), yang sebagian besar tumbuh dari bawah dengan kompetensi seadanya. Proses produksi tidak sama antara penangkar satu dengan yang lain karena pengalamannya berbeda.

Ujungnya produk benih kualitasnya beragam. Tentu ini adalah sisi lain dari wajah perbenihan perkebunan.

Katakanlah benih karet kualitasnya sangat beragam, mulai yang excellent sampai yang kelas campuran ada. Celakanya yang campuran ini selalu menang dalam pertempuran pada proyek pemerintah. Tentu bisa ditebak kenapa demikian. Rekanan dan Dinas Teknis mendapatkan “keuntungan” dan aman karena bibit yang dipasarkan tersebut legal karena sudah disertifikasi lembaga pengawasan benih. Kondisi ini yang mendorong kualitas benih perkebunan menjadi kurang baik.

Benih perkebunan tampak fisik dan fisiologisnya yang unggul dan tidak sulit dibedakan,. Tapi bagaimana akal kita bisa menerima ketika benih kelapa sawit illegal disertifikasi. Pelaku perkebunan dominan adalah petani tidak bisa membedakan benih baik dan benih tidak baik. Secara regulasi nasibnya diserahkan kepada lembaga sertifikasi. Jadi ketika benih tidak bermutu  mendapatkan sertifikat bisa terbayangkan produktivitas perkebunan sang petani ke depan.

Disinilah kita perlu mengingatkan pentingnya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian. Dalam setiap produk Keputusan Mentri Pertanian tentang Benih , Undang-Undang tsb selalu menjadi rujukan diktum mengingat pertama (silahkan dicek). Namun sayangnya hanya sebatas hiasan, jiwa dari aturan tersebut tidak tercermin pada regulasi dan pelaksanaan.  Pada tataran ini patut diragukan pemangku kebijakan perkebunan tidak memahami UU ini.

Bagaimana mungkin lembaga penilai yang menyatakan baik dan buruknya benih, lolos dan tidak nya sertifikasi, yang menjaga beredarnya mutu benih perkebunan, sebagai gantungan nasib para petani pekebun, yang menentukan produktifitas perkebunan ke depan, dan bersinggungan dengan kepentingan ekonomi para pihak,  “tidak terakreditasi dan tidak di audit” . Lalu bertindak bak malaikat yang bisa menentukan mana benih yang layak diedarkan atau tidak secara tidak langsung menentukan keluar tidaknya uang pemerintah bagi UMKM dalam konteks pengadaan benih. Sangat mengenaskan.

Akhirnya, kami harus mengingatkan terus rekaman perjalanan masa lalu tentang karet tidak bergetah di Bengkulu untuk menjadi bahan refleksi apakah Sistem Manajemen Mutu Benih Perkebunan yang kita miliki sudah menjamin mutu benih yang beredar. Jika belum sepenuhnya, maka mau tidak mau kita harus segera merubah sistem yang ada agar benih yang beredar di masyarakat menjadi lebih baik.

 

Rusbandi

Sekjen Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia

(PPBTPI)