Copyright 2019 - Custom text here

http://3.bp.blogspot.com/-qt4y7W4VIdk/UTWkcLNaf8I/AAAAAAAADWg/2iMWeEV-vPQ/s640/petani+kakao+busuk.jpg

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Saat ini petani kakao Indonesia menghadapi sejumlah tekanan dalam pengelolaan kebun. Jika tidak segera ditangani maka produksi kakao nasional akan cenderung merosot setiap tahunnya.

Ridwan petani kakao di Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menyebutkan jika saat ini petani yang mengubah kakaonya durian. Kemudian saat ini yang tersisa tinggai 20% dari luas areal dari beberapa tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan karena harga komoditi durian lebih menjanjikan sementara pada kakao serangan hama penyakit masih menjadi masalah utama dan harga relatif kurang stabil membuat komoditi kakao mulai ditinggalkan petani.

Sementara Azhar Mahir, pembina kakao dari Sulawesi Tenggara menyoroti masalah lainnya yang cukup mengkhawatirkan soal regenerasi petani. Saat ini para anak muda sudah tidak tertarik untuk berkebun karena berbagai macam kendala tentu ini akan menjadi persoalan terkait keberlanjutan kakao nasional.

Menurut Alosyius Danu, Ketua Umum Masyarakat Kakao Indonesia saat ini Indonesia telah menjadi net impor kondisi yang sebenarnya kondisi yang tidak disukai industry. Sebagian impor karena terpaksa, sebagian lagi karena kebutuhan blending untuk flavor produk. Pasalnya jarak Afrika-Indonesia yang jauh, berakibat naiknya jamur selama perjalanan. Sedangkan harga cenderung sama dengan harga lokal.

Sehingga ia berkesimpulan jika persoalan kakao memang persoalan nasional, namun ia menekankan jika stakeholder harus punya action dan planning.

“Pemerintah harus melakukan Gerakan Penyelamatan Kakao Nasional mengingat kakao merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia dan posisinya sangat strategis terhadap perekonomi Indonesia” tegasnya.

Fokusnya gerakan ini tidak lagi semata-mata pada pemberian bantuan bibit atau pupuk namun pada pengembangan cluster, penguatan kelembagaan, juga menyangkut pendanaan terhadap riset untuk  menangani hama dan penyakit kakao.

Mindset gerakan ini selain berupa menyelamatkan kakao rakyat juga menduplikasi keberhasilan petani di berbagai tempat untuk dijadikan model di tempat lain. Seperti misalnya keberhasilan pengembangan kakao organik di Bali, atau di keberhasilan penanganan penyakit Di KSU Mandiri Utama bisa dijadikan contoh.

Selain itu, menurut Danu, kemitraan dengan swasta harus diperkuat untuk mengurangi beban pemerintah. Pasalnya tidak mungkin pemerintah menyelesaikan masalah untuk 1,7 juta ha kakao. Namun kita perlu kebijakan untuk mewujudkan hal tersebut. Dalam gerakan tersebut partisipasi semua pihak menjadi penting tidak hanya swasta dan pemerintah namun juga dari petani maupun perguruan tinggi. Sehingga dengan langkah yang holistik pemerintah penyelamatan dalam dilakukan dalam aksi jangka pendek, menengah dan panjang.