Copyright 2019 - Custom text here

https://previews.123rf.com/images/likephotoman/likephotoman1205/likephotoman120500135/13497446-para-rubber-tree-garden-in-south-of-thailand.jpg

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Penangan karet tidak lagi dengan cara-cara biasa. Namun harus melalui langkah-langkah taktis dan tepat sasaran.

Demikian menurut pendapat Dr. Karyudi, pakar karet saat diwawancarai Gamal Institute. Peremajaan karet mendesak dilakukan namun harus dengan cara yang berbeda. Populasi harus dikurangi dan dilakukan secara mix farming dengan jarak tanam 12 - 18 m x 2,5 m sehingga populasi tanaman menjadi lebih sedikit . Sehingga di sela tanaman karet dapat ditanam tanaman semusim seperti jagung atau juga dikombinasikan dengan tanaman industri lainnya seperti nilam, sereh wangi dsb.

Sementara untuk daerah yang tidak sesuai dengan karet namun selama ini ditanami karet sebaiknya dialih komoditas dengan tanaman lain yang lebih menguntungkan. Sehingga dengan cara ini kita dapat mengurangi luasan karet dan produksi secara nasional sehingga dapat meningkatkan harga global.

“Terkait untuk penyerapan pasar, harapan saya pemanfaatan karet sebagai bahan campuran aspal tidak hanya untuk jalan nasional namun juga untuk jalan provinsi hingga Kabupaten. Sehingga jumlah karet yang dapat diserap menjadi lebih tinggi”, jelas Karyudi.

Sementara Gamal Nasir, founder Gamal Institute, menyampaikan hal senada. Ia menilai pemerintah harus melakukan langkah holistik untuk menghadapi penurunan harga yang sudah berlangsung cukup lama. Tentu tidak saja dari sisi on farm saja namun juga harus diikuti dengan penumbuhan industri dalam negeri. Sehingga kelebihan supply dalam negeri dapat terserap sehingga mendorong perbaikan harga di tingkat petani.