Copyright 2020 - Custom text here

https://coffeelands.crs.org/wp-content/uploads/2016/04/Don-Dario.jpg

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Dalam pengembangan wilayah berbasis perkebunan seringkali pemerintah daerah seringkali tidak memiliki strategi yang tepat. Tidak jarang upaya peningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat memanfaat dana pemerintah berujung pada pemborosan anggaran uang negara.

Prof. Dr. Dr. med. dr. A.B Susanto, SE, M.A, CPM,  pakar Strategi  Pengembangan Wilayah, menyebutkan  jika sudah seharusnya pemerintah daerah dapat memetakan keunggulan komperatif daerah, lalu menetapkan prioritas pengembangan komoditas. Namun yang perlu dicatat adalah paradigma pengembangan perkebunan tidak semata-mata bertumpu perluasan tanaman namun juga pada pengembangan sistem agribisnis berbasis cluster.

Setelah menetapkan komoditas yang akan dikembangkan dan sentra pengembangan maka langkah selanjutnya menyusun masterplan pengembangan cluster. Daerah yang menjadi pusat pengembangan tentunya bukan  kawasan pengembangan baru. Pada kawasan tersebut sudah ada perkebunan milik masyarakat dalam luasan tertentu  serta berbagai infrastruktur pendukung. Sehingga peran pemerintah adalah memberikan sentuhan penguatan dan stimulasi.

Dalam masterplan harus tertuang penguatan SDM, kelembagaan petani, pendampingan awal oleh pemerintah, pengembangan unit pengolahan, pengembangan kemitraan dengan dunia usaha. Selanjutnya apa yang sudah disusun dalam masterplan harus wajib diterjemahkan dan diimplementasikan dalam program-program tahunan yang konkrit.

“Pengembangan cluster yang efektif dapat menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat mengstimulus  tumbuhnya usaha lainnya. Ia mencontohkan daerah yang memiliki potensi vanili dapat melakukan sejumlah aksi mulai dari penguatan kelembagaan dengan mendorong tumbuhnya koperasi dan pengolahan secara kolektif yang mengelola perkebunan rakyat hingga ratusan ha, pengembangan fasilitas pengolahan dan peningkatan kapasitas petani dalam menghasilkan vanili bermutu baik akan dapat menarik eksportir bermitra dan membuka gudang di wilayah tersebut. Sehingga secara tidak langsung menumbuhkan bisnis baru dan menciptakan lapangan pekerjaan. Usaha pendukung seperti  pengiriman, jasa pendukung juga akan bermunculan”, jelas kandidat Guru Besar tidak tetap di Universitas Pembangunan Nasional, Veteran,Jakarta.

Lalu ia juga menambahkan, dengan banyaknya kunjungan ke kawasan pengembangan vanili turut menumbuhkan usaha jasa traveling dan kuliner. Saat petani vanili mengolah buah menjadi vanili kering lalu menjualnya dengan harga hingga jutaan per kg di wilayahnya, maka akan menciptakan peredaran uang yang cukup besar dan dapat mendorong berdirinya pusat perbelanjaan, jasa keuangan, dll seiring meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat

"Dengan langkah-langkah strategis tersebut Anda tidak perlu mengembangkan banyak hal-hal namun tidak berdampak apa stimulasi ekonomi, cukup fokus pada beberapa hal penting namun efektif menciptakan ledakan ekonomi", jelas A.B Susanto. Pendekatan ini memungkinkan penggunaan alokasi anggaran terfokus pada pengembangan pusat-pusat pertumbuhan sehingga outputnya terukur. Sehingga pada akhirnya dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi lanjutan dengan sedikit campur tangan pemerintah.