Copyright 2020 - Custom text here

https://www.beritarayaonline.co.id/wp-content/uploads/2016/12/20161220_112449.jpg

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Saat ini pemerintah ingin meningkatkan ekspor perkebunan  tiga kali lipat dalam 5 tahun. Namun mimpi ini hanya bisa diwujudkan tidak sementara-mata melalui bantuan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas tanaman melalui peremajaan atau intensifikasi melainkan penataan kelembagaan.

Menurut Gamal Nasir, pengamat perkebunan, pemerintah tidak hanya perlu berbenah di tingkat on farm namun juga membangun sistem yang memastikan setiap program yang dijalankan pemerintah berjalan dengan baik.

“Pemerintah pusat harus memperkuat perangkat dinas di tingkat Kabupaten dan Provinsi serta meningkatkan kapasitas SDM. Ada kecenderungan karena lemahnya implementasi kebijakan di tingkat daerah pusat menarik kewenangan kembali ke Jakarta. Sebaiknya hal itu dihindari”, jelas Gamal.

Perlu dihidupkan kembali fungsi penyuluhan dan pendampingan seperti pola Unit Pelayanan Pengembangan (UPP) pada saat pengembangan Perkebunan Inti Rakyat puluhan tahun lalu. Anak-anak muda yang dilatih dalam hal budidaya, pengolahan dan pemasaran membina sejumlah kelompok tani dengan luasan tertentu.

Lalu kemitraan antara petani dengan swasta harus ditingkatkan, sehingga sebisa mungkin seluruh petani pekebun memiliki mitra yang siap memberikan pendampingan dan memberikan jaminan pasar. Sementara sejumlah kelompok tani digabung menjadi koperasi.

 “Tanpa adanya penguatan dan pengembangan kelembagaan dipastikan pemerintah akan kesulitan meningkatkan ekspor 3 kali. Karena petani membutuhkan sistem yang mampu memberikan sistem untuk upaya yang ia lakukan untuk memperbaiki produksi dan mutu hasil”, jelas Dirjen Perkebunan periode 2010 – 2016 tersebut.