Copyright 2020 - Custom text here

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Tidak banyak yang mengetahui  tentang potensi usaha di bidang perkebunan terkait SDM. Sebagaimana kita ketahui bahwa saat ini sudah ada keharusan untuk menerapkan uji kompetensi terhadap SDM perkebunan mengikuti standar SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia).

Adapun beberapa SKKNI di bidang perkebunan yang telah terbit antara lain   1. Asisten Kebun Kelapa Sawit, 2. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan, 3. Pertanian Organik : Fasilitator Tanaman, 4.  Pertanian Organik Tanaman, 5. Kopi Luwak, 6. Pengambilan Contoh Sampel, 7. Penyuluh Pertanian, 8. Produksi Benih, 9. Pengawasan Benih Tanaman.

Sayangnya peluang pasar ini belum dimanfaatkan oleh lembaga pengembangan dan SDM di perkebunan. Padahal kegiatan uji kompetensi ini bisa memberikan keuntungan yang luar biasa. Sebagai gambaran dengan penerapan biaya Rp. 3 juta per orang maka untuk uji kompetensi terhadap 100 orang akan memberikan pendapatan Rp. 300 juta yang biaya digunakan hanya untuk membiayai aksesor.

Lalu bagaimana memanfaatkan kebijakan dan aturan ini sebagai peluang usaha? Pertama, adalah membentuk Tempat Uji Kompentensi yang meliputi penyiapan fasilias dan struktur organisasi internal yang menangani uji kompetensi. Kedua, menyiapkan tenaga aksesor dari lingkup TUK. Kalaupun tidak ada bisa menggunakan tenaga aksesor dari tempat lain.

Mengingat banyaknya program-program besar seperti kegiatan peremajaan sawit rakyat (PSR), pertanian organik, dll maka akan membuka peluang adanya penerapan uji kompetensi. Lembaga-lembaga penelitian seperti Riset Perkebunan Nasional, Puslit/Balt, LS Pro, Universitas bisa memanfaatkan peluang ini dengan cara. 1. Menjadikan lembaga perkebunan menjadi Tempat Uji Kompetensi 2. Melaksanakan pelatihan aksesor.

Menariknya untuk mendapatkan lisensi untuk bisa melakukan uji kompentensi ternyata tidak membutuhkan biaya yang cukup besar. Sayangnya, tidak semua pelaku perkebunan jeli melihat potensi ini.