Copyright 2021 - Custom text here

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Gamal Institute menggelar diskusi Karet Outlook 2021 bertema Tantangan dan Potensi karet 2021 pada Kamis (25/02/2021).

Diskusi ini menghadirkan Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Kementerian Pertanian Heru Tri Widarto dan Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha karet Indonesia (Gapkindo) Uhendi Haris.

Uhendi menyebutkan bahwa perbaikan harga karet berpotensi terjadi pada tahun ini. Hal ini lantaran adanya proyeksi terkait perbaikan pertumbuhan perekonomian global oleh IMF dan World Bank dengan angka masing-masing di atas 4%.

“Dari 2020 yang hampir seluruh negara mengalami kontraksi, di 2021 akan mengalami pertumbuhan positif. Ini sebuah harapan yang tentunya akan sangat memberikan efek langsung terhadap industri perkaretan global,” katanya dalam paparannya.

Di samping kondisi pertumbuhan ekonomi, sejumlah kondisi lain seperti iklim, fenomena tanaman karet yang tidak disadap, konversi lahan perkebunan karet, serta penyakit gugur daun yang terjadi tak hanya di Indonesia melainkan juga negara produsen karet alam lain, diprediksi akan menyebabkan penurunan suplai karet di pasar global. Pada akhirnya, faktor-faktor tersebut akan menyebabkan terkereknya harga karet global.

Gapkindo memprediksi, harga karet global akan mencapai rentang US120-180 sen per kilogram (kg) dengan rata-rata harga sebesar US165 sen per kg sepanjang Maret 2021-Februari 2022.

Sementara itu, Heri menyebutkan dalam 3 tahun terjadi penurunan produktivitas karet alam Indonesia akibat serangan gugur daun pada 350.000-380.000 hekatre (ha) lahan karet Indonesia.

Kendati demikian, Kementerian Pertanian telah melakukan peremajaan dan perluasan tanaman karet guna meningkatkan produksi karet Indonesia. Pada 2020, peremajaan telah dilakukan di 3.850 ha lahan karet di 21 kabupaten di 8 provinsi. Adapun luasan lahan karet yang bertambah sepanjang 2020 mencapai 125 ha di 1 provinsi di 1 kabupaten.

Untuk tahun ini, peremajaan akan dilakukan di 800 ha lahan kebun karet rakyat di 9 kabupaten di 5 provinsi yakni Jambi, Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

Adapun perluasan tanaman akan dilakukan untuk 300 ha lahan baru di 2 kabupaten di 2 provinsi yakni Riau dan Kalimantan Barat.