Copyright 2021 - Custom text here

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang menarik devisa untuk kesejahteraan masyarakat. Maka ini, mutu hasil produksi sawit juga diperhatian faktor apa saja yang menentukan keberhasilan.

Kebanyakan petani menginginkan hasil produksi tanaman dengan tandan yang besar agar mendapatkan minyak yang banyak ketika diproses. Namun, kondisi TBS yang dibawah potensi produksi beserta rendemannya yang kurang berhubungan dengan mutu hasil tanaman.

Hal tersebut disinggung Adhie dari PT. Polowijo Gosari Indonesia Holty dalam wawancara dengan Gamal Institute.

"Mutu menyangkut pada fisik, fungsi dan sifatnya. Misal secara fisik keras maka bisa dilakukan penaburan, lalu bisa bertahan berapa lama, kecepatan dan sebagainya. Kaitan fungsi adalah penyediaan hara pada pupuk," jelas Adhie.

Media yang dapat mensuplai tanaman pada hara salah satunya pupuk. Persediaan pupuk pada tanaman mengaitkan pada penyerapan zat oleh tanaman sebagai makanannya.

"Mutu tersebut tergantung pada harga serta penyimpanan, pengaruh yang diberikan, rapotasi, cara menaburkan hingga cara aktivitasnya," ucapnya.

Penjelasannya bahwa sifat tanah di Indonesia adalah asam, maka perlu asupan hara untuk menetralkan. Pada hara dalam pupuk, pemberian pupuk juga ditentukan oleh komposisi atau formulanya.

"Pilihlah pupuk yang tepat untuk kebutuhan tanaman, karena memberikan kebutuhan tanaman sesuai dengan kebutuhannya. Maka memberikan pupuk sesuai kebutuhan tanaman. Mutu pupuk berimbas pada harga dengan dampak hasil dan produksivitas tanaman yang kita pupuk," jelas Adhie.

kibat adanya perubahan iklim, kondisi hujan asam menyebabkan kation tanah terhidrolisis menjadi asam, maka perlu mengolah menyuburkan tanah seperti pemberian unsur hara.

Seperti kebutuhan Mg sebagai kualitas pembentukan klorofil. Hal ini karena klorofil berasal dari N yang terikat Mg, sehingga terbentuknya warna hijau pada daun kelapa sawit. (RN)