Copyright 2021 - Custom text here

JAKARTA- GAMAL INSTITUTE. Porang memiliki prospek luar biasa sebagai komoditas unggulan nasional. Nilai ekonomis tinggi karena kandungan glukomannan yang bagus untuk kesehatan.      

Dalam workshop bertajuk Cara Budidaya Porang dengan Omset Menjanjikan (10/09/2021), petani porang di Kabupaten Madiun, Sukarno, mengemukaan  budidaya porang dengan cara alami (hutan) dan peluang bisnis yang menjanjikan.    

Tanaman porang umumnya sebagai tanaman sekunder atau tanaman tumpang sari. Biasa ditanam dibawah tegakan hutan atau dibawah naungan hutan rakyat dan belukar.    

"Semakin tinggi tempat maka penyerapan air akan besar, matahari pun menjadi kurang sehingga rasanya akan berbeda" ujar Sukarno.    

Tinggi tempat ideal untuk menanam porang pada 300-500 mdpl. Meski begitu porang sudah membumi bahkan bisa ditemukan di dataran rendah.    

Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan vegetatif dari bulbil, umbi dan biji. Ukuran jarak penanaman 40x50 akan meminimalisir gulma.  

Porang ramah terhadap tanaman lain, sehingga bisa ditanam dimana saja. Petani desa Plangon menanam porang di hutan dengan pohon-pohon disekitar porang sebagai naungan alami.    

Tanaman porang juga menjaga debit air, efektif untuk melakukan revolusi penyediaan pangan dan papan serta pelestarian lingkungan. Menanam porang sama dengan mewarisi generasi kita hutan yang masih alami.     

"Menanam porang tidak seperti yang lain. Tanaman dipanen butuh waktu yang lama. Jika menggunakan bulbil dapat berkali-kali panen, lalu tanaman ini juga menyimpan cadangan air. Kita menanam namun juga menjaga lingkungan" ungkap Didik kepala Desa Plangon.   

Budidaya porang disamping membenahi ekonomi juga sekaligus membenahi hutan dan lingkungan. Nilai yang didapat bukan hanya ekonomi namun juga pelestarian alam (Adr).