Copyright 2021 - Custom text here

JAKARTA- GAMAL INSTITUTE. 'Skuy ngopi ' begitulah kira-kira ungkapan anak millenial untuk mengajak minum kopi. Kopi layaknya bagian dari gaya hidup generasi kekinian tak heran bila banyak cafe menjamur dan dipenuhi para muda-mudi.

“3-4 tahun terakhir menjadi tren untuk anak sekarang (millenial) rasanya ngga ngopi ngga greget" Ungkap Jhe Adiyanto owner Etalase Kopi Jambi.

Saat ini memang pasar bagi kopi adalah anak muda. Berbondong-bodong menjual kopi dengan sentuhan kreativitas bahkan topping yang tak biasa seperti santan, gula aren hingga lemon.

Melihat potensi ini, Etalase Kopi Jambi pun tidak menyia-nyiakannya. Uniknya, cara menarik para millenial bukan dari banyaknya varian baru melainkan diskusi dan edukasi tentang kopi.

"Millenial bukan hanya menikmati tapi melihat sudut pandang yang lain. Harus tahu perkebunannya, jenis kopi hingga bagaimana berbisnis" ujanya.

Kopi adalah budaya, budaya adalah kearifan lokal dan kearifan lokal adalah identitas. Maka ketauhilah kopi dari identitasnya. Dimulai dari petani kopi (kebun), prosessor (pasca panen, roastery (sangrai) dan barista/brewers/penyeduh. (Adr).