Copyright 2021 - Custom text here

 

PEKANBARU-GAMAL INSTITUTE. Sebagian besar petani kelapa sawit mengenal jagung dan padi gogo sebagai tanaman sela menunggu kelapa sawit yang diremajakan berbuah. Namun sejumlah petani asal Riau memiliki ide menanam semangka di sela kebunnya yang masih berumur kurang dari 2 tahun

Para petani peserta program Peremajaan Kelapa Sawit Rakyat di KUD Intan Ma'mur, Desa Bukit Intan Makmur, Kec Kuntodarussalam, Kab Rokan Hulu, Provinsi Riau, Indonesia memilih mengembangkan semangka. Mereka sudah menerapkan pola integrasi ini sejak tahun 2019 silam. Berbeda dengan petani lainnya yang lebih memilih tanaman pangan.

“Kami bisa mendapatkan produksi semangka mencapai 15 ton/ha. Sementara harga penjualan Rp. 4.000 per kg. Satu tahun kami bisa melakukan 2 kali penanaman. Sehingga sekali panen petani bisa mengantongi pendapatan hingga 60 juta. Luas yang lahan yang ditanami semangka mencapai 34 ha, jadi bisa dihitung betapa besarnya hasil panen kami”, jelas M Nasir, Sekretaris KUD Intan Ma’mur.

Petani di Rokan Hulu tersebut melakukan pengolahan lahan selama 1 bulan sebelum tanam. Sementara penanaman hingga panen membutuhkan waktu 2 bulan.  Untuk benih petani memilih jenis Amara dan Matrik.

“ Pertimbangan petani memilih semangka karena mudah dikembangkan, mudah dijual dan bisa dikonsumsi oleh keluarga. Tentu kesesuaian lahan juga jadi pertimbangan”, kata Nasir.

KUD Intan Ma’mur merupakan penerima bantuan PSR dengan waktu tanam bulan April 2019 untuk areal 682. Sementara tahap tahap kedua pada pada bulan Desember 2019. Petani plasma ini mengelola dana secara swakakelola mandiri.