Copyright 2021 - Custom text here

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Ketika para produsen dan supplier benih sawit berpacu untuk terus meningkatkan penjualannya, PT Palma Inti Lestari (PIL) memiliki misi lain.

Tak ingin sekedar menjual benih, perusahaan yang berpusat di Riau ini memiliki misi yang jauh lebih besar, membangun kebun sawit berkualitas bersama para petani.

Misi mulia ini dimulai pada sekitar 2012-2013 lalu. Reza Indriadi, Direktur PIL sudah mulai masuk ke desa-desa dan melakukan edukasi serta pendampingan bagi para petani sawit yang tergabung dalam koperasi unit desa (KUD) khusus pekebun sawit. Hal ini pula yang terus dilaksanakan ketika perusahaan ikut dalam menyukseskan program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang kini tengah digalakkan pemerintah.

“Kita pendekatannya berbeda. Kita memproduksi bibit tidak [sekedar] jualan. Jadi, pendekatan kita itu adalah membangun kebun, ujar Reza saat diwawancarai baru-baru ini.

Meskipun bibit menjadi salah satu elemen penting dalam pengembangan kebun kelapa sawit, menurut Reza peremajaan kebun sawit adalah sebuah kegiatan dengan proses kompleks. Ada banyak hal di luar permasalahan bibit yang perlu diperhatikan seperti pemahaman para petani atau pekebun sawit terkait manajemen kebun, upaya mengakses pendanaan dari perbankan sebagai tambahan modal, penyusunan anggaran, hingga menjembatani para petani dengan para calon pembeli (offtaker) potensial.

“Dari sisi anggaran dan segala macam, itu kan bukan pekerjaan sehari-hari yang mereka [petani] lakukan. Makanya, kita pendekatannya itu lebih ke edukasinya tadi. Bukan semata-mata jualan,” ujarnya.

Dalam melaksanakan misi mulia ini, Reza bersama PIL pun tak main-main. Reza mengaku ada banyak pihak, kelompok tani, atau KUD yang datang untuk meminta bekerja sama dengan mereka. Namun, tidak semua KUD itu diterima.

Alasannya, pihaknya hanya ingin bekerja sama dengan KUD atau kelompok tani yang benar-benar serius ingin mengembangkan dan meremajakan kebunnya melalui bantuan program PSR yang disalurkan oleh pemerintah. Bukan sekedar ikut-ikutan program.

Keseriusan ini pun ditunjukkan dengan kemauan para petani atau KUD untuk membentuk unit kebun. Unit kebun merupakan sebuah unit atau divisi yang dibentuk oleh KUD binaan dan bertugas mengurus atau memantau kegiatan pengurusan kebun.

Divisi ini biasanya berisi anak-anak muda yang berasal dari keluarga anggota KUD atau gabungan kelompok tani (gapoktan). Anak- anak muda ini kemudian dibekali dengan beragam pengetahuan seputar manajemen kebun, manajemen anggaran atau pembiayaan dan hal-hal penting lainnya.

“Jadi, pengorganisasian kerjanya juga kita atur. Mulai dari perawatan, misalnya bagaimana cara pengendalian gulma, sampai nanti ke pembagian kaveling panennya,” katanya.

Meski terkesan biasa, sebenarnya hal-hal ini memiliki dampak besar terhadap keberlangsungan pembangunan kebun petani. Salah satunya adalah terkait akses pendanaan.

Reza menjelaskan acapkali petani tidak terlalu memperhatikan kebun sehingga hal tersebut berdampak pada kelayakan mereka saat akan mengajukan bantuan pendanaan kepada pihak perbankan. Jadi pengorganisasian kerjanya juga kita atur mulai dari perawatan, misalnya bagaimana cara pengendalian gulma, sampai nanti ke pembagian kaveling panennya

Di samping itu, edukasi atau pendampingan ini juga akan sangat bermanfaat selama petani menanti sawitnya berbuah dan menghasilkan juga saat petani harus membagi pos pendapatan mereka untuk keperluan pengembalian pinjaman kepada perbankan, biaya perawatan tanaman, biaya hidup, dan lain-lain.

“Kalau selama itu [menanti masa panen] anggota [KUD] yang pinjam [uang ke bank] nggak melakukan apa-apa di kebun, kan kacau. Sementara, hasil yang diharap juga nanti nggak sesuai, sampai ke situ kita [pertimbangkan],” jelasnya.

Hingga saat ini, PT PIL memiliki total 10 mitra KUD. 3 di antaranya sudah mendapatkan dan memanfaatkan dana PSR. Adapun 5 lainnya sudah mendapatkan bantuan dana PSR dan sedang mempersiapkan lahan peremajaan dan 2 lainnya masih sedang menanti pencairan bantuan dana peremajaan sawit.

Reza pun berharap agar apa yang pihaknya lakukan bisa berkontribusi untuk meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan para petani sawit Indonesia. Di samping itu, upaya ini juga diharapkan bisa berkontribusi pada suksesnya program peremajaan sawit rakyat yang digalakkan pemerintah.

Adapun produksi benih perseroan tahun ini ditarget sekitar 3 juta butir atau tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.