Copyright 2021 - Custom text here

JAKARTA- GAMAL INSTITUTE. Dalam rangka mengedukasi anak-anak milenial tentang keunikan komoditas perkebunan, Gamal Institute melakukan kunjungan online ke Desa Pala yang berada di Kondangsari, Bogor merupakan tempat dimana induk pohon Pala Bogor berada sebelum menyebar luas ke seluruh daerah. Tanaman Pala atau dengan nama Myristica fragrans Houtt merupakan tanaman rempah bernilai ekonomi tinggi yang saat ini tengah dikembangkan oleh kelompok tani di Bogor yang diketuai oleh Ibu Euis Roswati.     

Dalam wawancara yang dipandu Fellyn, Remaja Perkebunan, tanaman yang berasal dari Banda Kepulauan Maluku ini rupanya sudah sejak lama tumbuh di daerah ini, dalam populasi yang cukup banyak. Sehingga membuka peluang kelompok tani sekitar agar dapat meningkatkan ekonomi mereka dengan mengelola hasil dari tanaman pala.     

Ibu Euis menjelaskan setiap bagian dari buah Pala seperti daging buah, biji, dan kulitnya mengandung minyak atsiri yang bisa didapatkan melalui proses penyulingan. Pala yang diolah berasal dari jenis Nurpakuan Agribun yang merupakan pala unggulan Bogor dengan kandungan minyak atsiri yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis lain. Kabar baiknya Ibu Euis memiliki kebun sumber benihnya lho.           

 Selain untuk minyak atsirinya, daging dari buah pala juga dapat dimanfaatkan menjadi berbagai macam olahan, inilah yang mendorong Ibu Euis Roswati dan anggota lainnya mengembangkan usaha olahan Pala seperti manisan, kue, dodol dan oalahan lainnya yang cukup populer dan Khas.         

Menurut Ibu Euis Roswati dalam perbincangannya menyebutkan bahwa nilai ekonomi dari Pala ini memang bisa dibilang tinggi. Bahan dari tanaman pala ukuran 50 cm memiliki harga Rp12.500, biji pala basah Rp17.500/kg. Sedangkan untuk biji pala kering dapat mencapai Rp65.000/kg, harga biji pala yang kering memiliki harga cukup tinggi karena merupakan bahan baku minyak atsiri. 

Dari liputan itu tergambar bagaimana unik dan hebatnya tanaman pala.