Copyright 2021 - Custom text here

JAKARTA- GAMAL INSTITUTE. Kelapa merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi, namun tidak begitu memberikan kesejahteraan bagi petaninya. Adanya kesenjangan yang terjadi memberikan perhatian bagi beberapa pandangan. Klasterisasi menjadi salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut.

Dalam Talkshow yang bertajuk "Pengembangan Klasterisasi Kelapa" (11/09/2021), Efli Ramli, S.E. berpendapat bahwa besarnya kebutuhan kelapa untuk keperluan industri tidak sesuai dengan kesejahteraan petaninya. Ini artinya bahwa terdapat salah satu mata rantai yang terputus sehingga perlu adanya perhatian yang lebih.

Kelapa umumnya dijual dalam bentuk butiran dimana pemanfaatan yang lebih dominan yaitu pada daging buahnya, sedangkan bagian sabut, tempurung, air dan lainnya dibuang. Karena itulah upaya pengembangan klasterisasi kelapa perlu dikembangkan guna meningkatkan nilai tambah melalui pemanfaatan seluruh komponen kelapa untuk menjadi produk turunan yang bernilai.

Dr. Ismail Maskromo, M.Si. menambahkan bahwa kelapa merupakan komoditi yang mandiri artinya bahwa tanaman kelapa banyak yang tidak dipelihara karena kurangnya perhatian dari pemerintah. Rata-rata tanaman kelapa yang ada merupakan tanaman warisan yang sudah terlampau tinggi sehingga membengkakan biaya operasional pemanenan.

“Perlu adanya beberapa upaya yang dilakukan seperti replanting, perbanyakan masal, dan keberpihakan Pemerintah” tambahnya. 

Harus ada kolaborasi yang baik antara Pemerintah, pengusaha dan petani, sehingga pengembangan klasterisasi kelapa dapat dilakukan maksimal. Seperti halnya komoditi lain, kelapa juga diperlukan alokasi dana dari pemerintah disertai dengan bimbingan bagi petani dalam penggunaanya. Pengembangan kelapa bernasis klaster sangat disarankan karena Indonesia merupakan negara yang luas. (TW)