Copyright 2022 - Custom text here

Nucifera | laskarnucifera

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Kelapa hibrida merupakan salah satu hasil penerapan teknologi yang menjadi primadona untuk pembudidaya yang mengincar bahan tanam penghasil produksi tinggi, cepat berbuah, dan memiliki keunggulan lainnya.

Namun, apakah ketersediaan benih kelapa hibrida yang saat ini sudah dapat memenuhi permintaan?

Dalam kegiatan Webinar yang bertajuk “Penyiapan Kebun Induk Kelapa Hibrida” (25/10/2021) Prof.Dr.Ir. Hengky Novarianto, MS. menyatakan bahwa sekitar sepuluh varietas hibrida kelapa unggul telah dilepas, tetapi ketersediaannya masih sangat terbatas, saat ini bibit kelapa hibrida hanya ada di BALITPALMA dengan kapasitas sekitar 70.000 butir per tahun.

Melihat hal tersebut, sebenarnya menjadi peluang bagi pengusaha untuk melebarkan usahanya membangun dan mengelola kebun induk kelapa hibrida.

Kebun induk adalah areal yang ditanami dengan varietas kelapa yang telah dilepas atau varietas kelapa yang berpotensi dilepas sebagai sumber benih.

Ada beberapa varietas kelapa hibrida unggul yang dapat menjadi rekomendasi untuk Anda kembangkan seperti Khina 1, Khina 2, Khina 3, Khina 4, Khina 5, dan Hengniu.

Selain pemilihan varietas yang tepat, pemeliharaan kebun induk kelapa merupakan suatu upaya yang penting dilakukan secara tepat dan cermat.

“Varietas bagus tanpa pemeliharaan yang benar itu tidak akan ada artinya”, jelas Yulianur Rompah Natana, SP.,M.Si dalam kegiatan tersebut.

Pemeliharaan yang dilakukan dapat meliputi pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dan lainnya.

Rekomendasi pemupukan yang tepat untuk tanaman kelapa hibrida dibagi menjadi 4 tahap pemupukan, yaitu di antaranya di usia 1 dan 2 tahun dilakukan pemberian  250 kg/tanaman Urea, 175 kg/tanaman SP36, dan 350 kg/tanaman KCl. Di usia 3 tahun 500 kg/tanaman Urea, 350 kg/tanaman SP36, dan 700 kg/tanaman KCl. Dan di usia 4 tahun 750 kg/tanaman Urea, 500 kg/tanaman SP36, dan 1500 kg/tanaman KCl.

Untuk membangun kebun induk kelapa hibrida kualitas benih yang digunakan maupun yang akan diproduksi nantinya haruslah berkualitas, bersertifikat dan berlabel.

“Untuk pembudidaya, gunakanlah benih yang bermutu, bersertifikat dan berlabel, begitu juga untuk para produsen benih lakukanlah sertifikasi dengan baik karena sebenarnya sertifikasi ini tidaklah susah asal semua persyaratannya sudah disiapkan”, ujar Ir. Therecia Vennie dalam kegiatan tersebut.(TW)