Copyright 2022 - Custom text here

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Bisnis aren memberi peluang bagi banyak orang untuk menjadi kaya raya. Ya, coba saja lihat, hampir semua bagian dari sebatang pohon aren bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Dari niranya saja, petani maupun pengrajin aren bisa mengolahnya sebagai bahan baku pembuatan gula aren (gula merah) yang akan mendatangkan penghasilan bahkan laba hingga jutaan sampai milyaran rupiah.

Nira juga dimanfaatkan dalam proses pembuatan bioethanol. Selain itu, masih ada bagian lain seperti buah yang diolah menjadi kolang-kaling, serta daun, ijuk, batang, hingga akar yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan.

Hal itu juga dikemukakan pebisnis aren sekaligus Sekretaris Serikat Petani dan Pengrajin Aren Indonesia (SPPAI), Ahmad Sudjana, selaku narasumber dalam webinar bertajuk Rahasia Kaya Raya dari Bisnis Aren yang diadakan Gamal Institute, Selasa (9/11/2021).

Dalam kesempatan itu, Ahmad memberikan gambaran analisis usaha dari bisnis aren. Dia mencontohkan dari sisi produksi nira untuk pembuatan gula aren.

Dari sebatang pohon aren (varietas parasi), bisa menghasilkan nira rata-rata 12-20 liter per hari.

Untuk 1 kilogram (kg) gula aren menggunakan sekitar 6 hingga 7 liter nira. Sementara di tingkat petani, harga 1 kg gula aren (curah) mencapai Rp 15.000. Jadi dari 12-20 liter nira per pohon, petani rata-rata bisa mendapatkan 1,5 kg gula aren atau kalau bila diuangkan senilai Rp 22.500.

Dalam 1 hektare (ha) lahan yang bisa ditanami sekitar 138 pohon aren (jarak tanam 9-9), maka petani bisa mendapatkan Rp3.105.000/hari (Rp 22.500x138 batang pohon aren).

Masa penyadapan nira rata-rata selama 75 hari atau sekitar 2,5-3 bulan. Sedangkan masa produktif aren bisa sekitar 675 hari. Sehingga dari 1 ha lahan aren tersebut, total penghasilan petani bisa lebih dari Rp 2 milyar.

“Jika dihitung dari masa produktif (produktivitas) per pohon, dengan hitung pendek) yang bisa diambil rata-rata 675 hari, maka yang bisa diperoleh petani dari 1 ha lahan aren bisa mencapai Rp 2,09 milyar,” bebernya.

Bisnis gula aren, menurut Ahmad, memiliki pasar yang sangat prospektif baik untuk lokal maupun ekspor. Permintaannya cukup tinggi mengingat gula aren itu merupakan salah satu kebutuhan pokok.

Bahkan diakui Ahmad, musim pandemi pun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap bisnis aren.

 

“Memang ada sedikit kendala di pengiriman tapi secara umum bisnis aren ini tidak terpengaruh pandemi,” ungkapnya. (SR)