Copyright 2021 - Custom text here

 

MAKASSAR-GAMAL INSTITUTE. Berawal dari upaya pemberdayaan masyarakat terpencil di Kabupaten Pinrang, tanpa sadar Donadei Institute menemukan surga yang tersembunyi.

Pada tahun 2006 Donadei Institute, mengawali kegiatannya untuk membuka isolasi dari masyarakat di daerah pegunungan tepatnya di Desa Sali Sali, Kabupaten Pinrang. Lembaga Sosial yang dicetus oleh sejumlah tokoh Sulawesi tersebut memiliki visi ingin meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat pegunungan yang selama ini tertinggal dari saudaranya di daerah pesisir.

Menurut Donatus, pelaksana harian Donadei Institute, pada tahun 2006 kegiatan institusi tersebut terfokus pada konservasi hutan dan mengedukasi masyarakat tentang pertanian intensif.

“Ketika itu kami mencoba menghutankan perkebunan kopi yang sudah rusak dan tidak dikelola masyarakat pada areal dengan kemiringan lebih dari 15 persen. Dengan pertimbangan daerah tersebut rawan terjadi longsor”, jelas Donatus.

Selain itu, Donadei Institute memberikan bimbingan teknis terkait budidaya kopi kepada masyarakat. Bersamaan dengan itu Donadei institute mulai mencoba menggalang dana untuk secara bertahan membangun membuka akses jalan ke wilayah terpencil ini. Selama lebih kurang 5 tahun akhirnya Donadei sukses membangun lebih dari 200 km jalan menuju kawasan gunung tersebut.

Lalu pada tahun 2011 Donadei institute melanjutkan kegiatan penghijauan yang diperluas hingga ke 2 desa yakni Desa Suppirang (desa induk), Desa Mesa kada. Juga dikembangkan juga kebun percontohan di atas lahan seluas 5 ha yang ditanani pohon kopi dan tanaman buah-buahan seperti apel, jeruk, manggis, durian, apokat, durian, dan markisa serta tanaman hias. Pada areal tersebut juga dibangun kolam ikan tawar, kolam renang alami, dan rumah adat tongkonan yang dimanfaatkan masyarakat kami gunakan pertemua untuk 3 desa saat hari raya agama dan pesta adat terutama pada akhir-akhir setiap tahunnya.

“Ketika seluruh fasilitas terbangun. Wilayah yang dikonservasi telah menghutan. Akhirnya kami menemukan sebuah harmonisasi alam yang indah. Layaknya Shangri la. Dari rumah adat Tongkonan kami seolah dipertontonkan sebuah keindahan alam bak surge. Dari sini bisa terlihat lipatan gunung yang indah dengan balutan awannya”, jelas Donatus

Dari atas areal sekitar Tongkonan, dari atas puncak dengan ketinggian 200 m dpl, tempatnya di Bukit Karomba, pengunjung dapat menikmati hamparan laut luas dan kota Pare-Pare, Kota Pinrang dan sekitarnya terutama dimalam hari. Pengunjung juga dapat melihat perbukitan Tana Toraja, Mamasa dan Polman sebagai batas wilayah kabupaten masing-masing, Sementara awan tidak jarang meyelimuti kawasan indah ini hampir setiap jam. Bahkan beberapa stasion televisi dan media media lainnya pernah datang meliputnya tanpa sepengetahuan Donadei institute.

Hanya saja ketika semakin banyak anggota keluarga dari 3 desa dari luar kota yang pernah mengunjungi tempat ini, perlahan tapi pasti, kawasan ini mulai dijadikan sebagai alternatif wisata. Proses ini terjadi melalui kabar dari mulut ke mulut. Seperti halnya komentar Nurcholis , pakar kopi yang jauh-jauh dari Jember, Jawa Timur mengunjungi tempat ini, dan mengakui belum pernah melihat keindahan alam seperti ini sebelumnya. “Saya sudah sering mengunjungi berbagai daerah pengunungan yang identic dengan pemandangan alam yang indah, namun ini salah satu yang paling indah selama pengalaman saya”, komentarnya

Hanya saja, Donadei Institute, tetap fokus pada fisinya pada pengembangan ekonomi masyarakat. Sehingga langkah selanjutnya adalah mengembangkan perkebunan kopi rakyat seluas 500 ha yang akan diarahkan untuk menghasilkan kopi specialty. “Lahan sudah disiapkan tinggal mencari sumber dana untuk mendukung hal tersebut”, jelas Donatus.

Terganjal Aturan

Setelah 2 bulan kawasan ini mulai ramai dikunjungi masyarakat, pemerintah daerah melayangkan surat teguran dari Pemerintah Daerah pinrang, dan meminta agar menghentikan kegiatan di kawasan. Pengurus Donadei tidak keberatan dengan penutupan tempat wisata hanya saja dampak dari kebijakan berarti juga menghentikan aktivitas pengembangan kopi rakyat serta, menghentikan pembinaan masyarakat

Sayangnya masalah kawasan ini menjadi salah satu sumber hiruk pikuk di berbagai wilayah di Indonesia. Pasalnya 3 desa yang menjadi sentra pengembangan yakni Suppirang, Sali Sali dan Mesa sudah masuk kawasan HPT atau Hutan Produksi Terbatas. Hanya saja masyarakat di wilayah tersebut memprotes kebijakan tersebut. “Areal ini kami telah huni sejak leluhur turun temurun. Keluarga kami sudah menetap di sini selama puluhan tahun bahkan sebelum Indonesia merdeka. Lalu bagaimana nasib kami dan kebun-kebun kami yang mungkin juga berada di kawasan hutan”, kata Simon Sikanna petani kopi asal Desa Sali-Sali.

Hanya saja pihak pengurus Donadei Institute meyakini pemda sepakat dengan kegiatan pengembangan masyarakat yang mereka lakukan. Pemerintah akan memberikan solusi yang terbaik agar aktivitas pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan.

Mendengar adanya masalah penghentian kegiatan Donadei terkait masalah status lahan. Professor Yunus Musa, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, mengharapkan pemerintah daerah dapat memberikan dukungan terhadap aktivitas yang sifatnya inisiasi masyarakat untuk pengembangan ekonomi wilayah. Khususnya pada wilayah-wilayah yang selama ini telah dikelola masyarakat namun kurang bernilai secara ekonomi yang kadang secara formal kawasan tersebut masuk kawasan hutan.

Sementara H Ir Burhanuddin Kadir, MSi, warga Sulawesi Selatan yang juga mantan Kepala Dinas Perkebunan Bulukumba, menilai masyarakat membutuhkan kehadiran negara untuk menyejukkan dan menemukan solusi cedas terhadap berbagai masalah yang terjadi dan tidak terjebak pada struktur hukum yang kaku tanpa melihat fakta sejarah. “Seharusnya upaya kelompok tertentu untuk melakukan pengembangan masyarakat harus didukung dan jika ada kesalahan sebaiknya dilakukan pembinaan , serta tidak sekedar mengatakan hitam atau putih”, komentarnya.

Namun dibalik hirup pikur persialah lahan, legalitas, setidaknya kita patut berbanggan jika saat ini Indonesia telah memiliki surga yang tersembunyi, layaknya Shangri la yang diyakni di puncak Himalaya, namun ternyata berada di wilayah dataran tinggi Pinrang . Serta bangga ketika masih ada anak-anak bangsa yang perduli membantu sesamanya dan membebaskan masyarakat yang buta peradaban menjadi dapat meningkatkan martabat kehidupannya.