Copyright 2023 - Custom text here

https://indonesia.go.id/assets/img/content_image/1557728570_biodiesel_b20.jpg

JAKARTA-GAMAL INSTITUTE. Tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita menggunakan bahan bakar minyak (BBM) untuk berbagai jenis kegiatan, salah satunya adalah sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Umumnya, BBM ini sendiri dibuat dari bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil merupakan sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam. Pembentukan bahan bakar fosil ini juga memerlukan waktu yang  sangat lama, bahkan sampai berjuta-juta tahun. Terbentuk karena adanya proses alamiah berupa pembusukan dari organisme yang telah mati seperti hewan, tumbuhan dan manusia. Karena memerlukan waktu yang sangat lama dalam pembentukannya, bahan bakar fosil merupakan salah satu jenis bahan bakar yang tidak dapat diperbarui.

Tahukan kalian ? Ternyata, dalam solar yang biasa kita gunakan sehari-hari terdapat kandungan minyak kelapa sawit sebanyak 20 persen (B20). Itu sebabnya disebut biosolar atau biodiesel.

Menurut data dari BPH Migas, pada tahun 2018 konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) diperkirakan mencapai 75 juta kilo liter (KL). Jumlah itu dibagi menjadi jenis BBM tertentu (JBT) sekitar 16,2 juta KL untuk solar dan minyak tanah, jenis BBM khusus penugasan (JBKP), dan jenis BBM umum (premium, pertalite, pertamax) sekitar 51,3 juta KL. Konsumsi bahan bakar ini akan terus meningkat setiap tahunnya. Jika kita asumsikan kandungan minyak sawit pada biodesel sekitar 20 persen maka penggunaan minyak sawit adalah 2,3 juta KL. Luar baisa

Penggunaan bahan bakar yang semakin lama semakin meningkat, tidak diiringi dengan pembentukan bahan bakar fosil yang memang memerlukan waktu yang lama dalam pembentukannya. Karena hal tersebut, perlu adanya inovasi-inovasi bahan bakar yang dapat diperbarui dan lebih ramah terhadap lingkungan, salah satunya adalah dengan pembuatan biodiesel yang merupakan bahan alternatif pengganti solar.

Biodiesel merupakan bahan bakar terbarukan yang berbahan baku lemak hewani maupun nabati berupa metil ester asam lemak (Fatty Acid Methyl Ester/ FAME). Pembuatan biodiesel pertama kali dilakukan oleh E. Duffy dan J. Patrick pada tahun 1853 sebelum mesin diesel ditemukan. Mesin diesel sendiri baru berhasi dirakit 40 tahun kemudian oleh Rudolf Diesel di Augsburg, Jerman pada tahun 1893. Kemudian, mesin diesel itu diperkenalkan di World’s Fair di Paris, Prancis yang pada saat itu bahan bakunya berasal dari kacang tanah.

Seiring berjalnnya waktu, biodiesel dapat dibuat dari berbagai macam bahan baku, salah satunya adalah dari minyak kelapa sawit. Pembuatan biodiesel dari minyak kelapa sawit sendiri tergolong memiliki produktivitas yang tinggi, dimana 1 ha tanaman kelapa sawit mampu menghasilkan hingga 3,5 ton minyak nabati. Jauh lebih banyak diandingkan dengan kanola yang 1 hektarnya mampu menghasilkan 0,8 ton minyak nabati.

Pembuatan biodiesel dari minyak kelapa sawit ini terdiri dari beberapa tahapan, diantaranya adalah transesterifikasi, pencucian, pengeringan dan filtrasi. Melalui serangkaian proses tersebut, terdapat kandungan 20% kelapa sawit dalam biodiesel, dan sudah ditingkatkan kandungan mencapai 30 persen tahun 2020.